Menjadikan Kulit Putih dan Sehat
September 15, 2011
7 Langkah Konsumen Amankan Lingkungan Hidup
September 26, 2011

Tantangan Pengelolaan Air di Kota

 

Setiap tanggal 22 Maret, PBB menginisiatif perayaan hari hak air sedunia. Inisiatif ini dilakukan sejak tahun 1992 ketika PBB mengadakan Sidang Umum ke 47 di Rio de Janairo, Brazil, dengan tujuan menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan pengelolaan sumber-sumber air secara berkelanjutan. Tahun ini, hari hak air mengambil tema Pengelolaan Air di Perkotaan. Tema ini diambil mengingat masih minimnya masyarakat dunia yang dapat mengakses air bersih, sekalipun di perkotaan.

 

Di Indonesia, hari hak air tidak terlalu digembar-gemborkan. Kendati ada juga beberapa kelompok masyarakat yang melakukan demo di bundaran HI, dengan tema Air Bersih untuk Rakyat. Kemudian sekelompok pekerja PU, kontraktor dan profesi yang berhubungan dengan air juga melakukan demo dengan tema ‘Mendukung Sungai Bersih untuk Kehidupan’.

 

Secara umum di Indonesia, 1 diantara 2 orang tidak mendapat akses air bersih. Data Bank Dunia tahun 2008 juga menyebutkan bahwa 50 ribu anak Indonesia meninggal karena kurangnya akses air bersih. Dan dari 238 juta penduduk Indonesia, baru 40 juta yang terakses air pipa atau air ledeng. Itupun di perkotaan.

 

Kemudian, berdasarkan data WHO, dalam waktu 18 tahun, Indonesia hanya mampu meningkatkan akses air bersih sebesar 9 persen, yaitu dari 71 persen pada tahun 1990 menjadi 80 persen (2008). Bandingkan dengan Malaysia yang pada tahun 1990 baru memenuhi 88 persen kebutuhan minum penduduk, pada tahun 2005 sudah mengklaim mencapai 100 persen.

 

Sebenarnya Indonesia berkelimpahan air. Cuma pengelolaannya yang terkesan “amburadul”. Bayangkan, sebagai negara tropis negara kita dialiri oleh sungai-sungai besar, mata air berlimpah dari pegunungan, danau-danau, air tanah dan curah hujan deras. Bahkan Indonesia, bersama 5 negara lain (Brazil, Rusia, Kanada, Cina dan Kolombia) menguasai 50 persen cadangan air tawar dunia.

 

Tetapi, selain terlihat tidak ada keseriusan pengelolaan (terutama untuk DAS atau Derah Aliran Sungai), pencemaran juga ikut menurunkan kualitas air secara signifikan. Seperti penambangan emas (logam berat merkuri terbawa air), pabrik-pabrik yang membuang limbah ke sungai, dan buangan rumah tangga/penduduk langsung ke badan air (sungai dan air tanah). Bahkan laporan dari Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur menyebutkan, gara-gara aktivitas tambang ini, 9 aliran sungai kecil telah hilang.

 

Selain itu, permasalahan nasional adalah privatisasi air yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Terdapat ratusan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK), tetapi yang menguasai 50 persen pasar hanya 2 perusahaan. Konflik penduduk sekitar mata air dengan perusahaan yang memprivatisasi air sudah terjadi di beberapa daerah.

 

Akses bagi Warga Jakarta

 

Jakarta, sebagai megacity, tak terkecuali juga mengalami kendala akses air bersih. Lihat saja sungai yang membelah Jakarta, seperti kali ciliwung, warnanya coklat-hitam, kotor sekali. Sementara air tanah yang disedot penduduk Jakarta juga semakin sedikit kuantitasnya dan terus terdegradasi kualitasnya.

 

Kemudian, berdasarkan data dari Universita Indonesia (UI), pilihan utama masyarakat DKI Jakarta untuk memenuhi kebutuhan air minum adalah sumur bor (air tanah) sebanyak 34,5 persen, disusul air kemasan (27,5%), air ledeng eceran (24,4%), air ledeng meteran (11,3%) dan sumber lainnya. Berikut pembahasan satu persatu sumber-sumber air tersebut, baik ketersediaannya (kuantitas/debit), kualitas, maupun harga.

 

  1. Air Tanah/ Sumur

Air tanah/sumur ini menjadi prioritas masyarakat Jakarta untuk mengakses air bersih.  Bagaimana dengan kualitasnya? Menurut pakar teknik lingkungan dari UI, pencemaran bakteri e.coli di sumur penduduk Jakarta sangat tinggi. Sekitar 80-90 persen sumur tercemar bakteri. Kehadiran bakteri e.coli dalam air mengindikasikan kehadiran bakteri patogen lainnya didalam air, seperti salmonella, penyebab diare dan typhus. Maka tidak heran jika prevalensi diare di Jakarta cukup tinggi, yaitu 8 per seratus.

 

Selain kualitas yang terus memburuk, kuantitas air tanah juga semakin menurun. Ini karena penyedotan yang tidak terkendali oleh pelaku industri, rumah niaga atau rumah mewah. Data dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) menyebutkan kelebihan sedotan air tanah ini mencapai hingga jutaan meter kubik. Sedotan air tanah yang sangat tinggi bukan hanya akan mengurangi kuantitas air tanah, tetapi juga membuat level muka tanah di Jakarta semakin menurun. Imbas lain adanya intrusi air laut hingga ke tengah kota.

 

  1. PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)

Di Jakarta, baru sekitar 50 persen atau 516.868 kepala keluarga (KK) yang terjangkau air PDAM. Harga air PDAM di Jakarta termasuk tinggi, yaitu Rp 7.500 per meter kubik. Bandingkan dengan di Kuala Lumpur, dimana harga air Rp 2500, sementara di Amerika Serikat berkisar Rp 7.800. Jadi, harga termasuk kendala.

 

Ironisnya, ternyata penduduk miskin perkotaan membayar air bersih lebih mahal dari penduduk kaya. Masyarakat miskin yang tidak terakses air ledeng/PDAM, mereka harus membeli air, yang harganya mencapai Rp 1000-1500/galon atau kira-kira Rp 50.000-Rp 75.000/meter kubik. Bandingkan dengan iuran PDAM untuk golongan rumah kaya di Jakarta yang dipatok Rp 12.550/meter kubik. Kesulitan warga miskin dalam mengakses air PDAM adalah karena besarnya biaya pemasangan awal, status tempat tinggal, dan masalah kependudukan.

 

Mengenai kualitas PDAM, pakar UI menyebutkan sekitar 28 persen terkontaminasi bakteri e.coli. Ini diduga terjadi karena sekitar 40 persen pipa ledeng mengalami kebocoran. Sementara kualitas lainnya, seperti tingkat kejernihan juga masih menjadi kendala. Setidaknya hal ini tercermin dari masih banyaknya pengaduan ke YLKI menyangkut kualitas (bau, keruh) air PDAM. Setali tiga uang, masalah kuantitas/debit, juga masih banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Debitnya kecil sekali, atau kalau mengalir malah di malam hari.

 

  1. Air Minum dalam Kemasan (AMDK)

AMDK sebenarnya tidak disarankan oleh WHO sebagai sumber air bersih. WHO malah menyebut bahwa AMDK sebagai sumber air tidak layak minum, karena lemahnya pengawasan kualitas air minum ini. Tetapi apapun kata WHO, tampaknya masyarakat Jakarta sudah mulai tergantung dari AMDK.

 

Secara kualitas, dari penelitian YLKI, masih banyak AMDK yang mengandung bakteri e.coli. Sayangnya, di SNI (Standar Nasional Indonesia) AMDK e.coli ini kok malah masih diijinkan. Padahal, seperti tertuang dalam Permenkes e.coli tidak boleh ada alias nol di dalam air minum. Ya, namanya air minum seharusnya memang tidak boleh ada sama sekali bakteri indikator patogen ini. Dikhawatirkan juga AMDK yang lama terpapar matahari, kemasan plastiknya akan ikut mengkontaminasi isi airnya. Jadinya, minum air rasa plastik.

 

Sedangkan dari segi harga, jika satu galon seharga Rp 11 ribu, maka per meter kubik harganya mencapai Rp 550 ribu. Mahal sekali memang, sehingga faktor harga juga menjadi kendala.

 

  1. Air Hujan

Di Jakarta, walaupun debit hujan yang jatuh sangat tinggi (sehingga bisa banjir), belum ada proses pengolahan air hujan bagi masyarakat. Selain itu, yang terserap ke tanah untuk mengisi air tanah juga rendah, hanya 26 persen, sisanya menjadi limpasan air hujan (runoff). Padahal secara kualitas air hujan cukup baik dibanding dengan air tanah yang tercemar. Jadi, seharusnya memang ada kewajiban setiap rumah tangga dan gedung untuk membuat serapan air. Sehingga jatuhnya air hujan ini tidak sia-sia

 

Bagaimana Melestarikan Air?

 

Memang, kalau melihat data diatas, semakin hari semakin kahawatir terhadap akses air. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat lubang serapan air, biospori dan menanam pohon. Lubang serapan air cukup mudah, dengan membuat lubang panjang dan sedalam kira-kira semeter, kemudian diisi batu, kerikil dan pasir. Lubang ini akan menyerap air hujan yang jatuh secara cepat (tidak sempat terjadi limpasan air hujan).

 

Kemudian dengan biospori malah lebih banyak lagi manfaatnya. Caranya, buat lubang sedalam kira-kira 2 meter, kemudian diisi dengan sampah organik, dan ditutup dengan batu/tanah gembur. Akan terjadi proses pengomposan, dan bakteri pengomposan tersebut akan menstimulus bakteri disekitarnya untuk membuat jalur-jalur air didalam tanah  di sekitar lubang. Air akan terserap masuk ke jalur-jalur ini mengisi air tanah, sementara pupuk komposnya bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman.

 

Proses menanam pohon lebih sederhana lagi. Kalau bisa pohon keras yang berakar tunggang. Akar-akar ini yang kelak akan menahan air sehingga bisa menjaga debit air tanah disekitarnya.

 

Penjernihan Air Sederhana

 

Pada dasarnya kualitas air terdiri dari 3 jenis, yaitu fisik (kejernihan, tidak ada material halus), kimia dan biologi/bakteri. Untuk membentuk kejernihan, partikel partikel halus dalam air dan baketrinya, bisa dilakukan ‘penyaringan’ air, yaitu dengan menggunakan karbon aktif (bisa dari arang), kemudian dengan ijuk, batu pasir dan batu kecil. Arang ini juga bisa menyerap ‘bakteri’ yang sekaligus bisa sebagai sanitasi air.  Jika tingkat kekeruhannya sangat tinggi, ditambah penggunaan kaporit, sehingga menjamin air benar-benar bebas bakteri. Penting untuk diketahui, penggunaan kaporit harus dalam dosis kecil, sebab bau kaporit akan mempengaruhi kualitas air.

 

Kualitas air hasil penjernihan sederhana ini tidak kalah dengan kualitas air PDAM. Tetapi secara berkala, bahan-bahan penjernih tersebut harus dibersihkan sehingga masih tetap efektif dalam menjernihkan air.


Ilyani S.Andang- Pengurus Harian YLKI

(Dimuat di majalah Warta Konsumen)