Keamanan Mainan Edukasi Anak yang Beredar di Pasaran
January 25, 2012
Kenaifan Politik Pengelolaan Subsidi BBM
January 26, 2012

SNI Mainan Anak Masih Berpotensi Membahayakan

JAKARTA, KOMPAS.com – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah untuk secara ketat melakukan pengawasan serta peningkatan standar SNI (Standar Nasional Indonesia) terkait masih banyak ditemukannya mainan edukasi yang mengandung zat berbahaya.

Hal itu disampaikan oleh Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada wartawan saat mengumumkan hasil pengujian beberapa mainan edukasi anak yang terbukti mengandung zat kimia berbahaya di Jakarta, Rabu, (25/1/2012).

“Yang jelas dengan temuan ini YLKI akan mendorong agar standar SNI yang ada lebih ditingkatkan. Artinya, standar yang ada saat ini masih berpotensi membahayakan anak-anak,” katanya. Yang jelas dengan temuan ini YLKI akan mendorong agar standar SNI yang ada lebih ditingkatkan. Artinya, standar yang ada saat ini masih berpotensi membahayakan anak-anak

Dari hasil uji laboratorim terhadap 21 sampel mainan edukasi, YLKI menemukan bahwa mayoritas mainan edukasi yang beredar di pasaran mengandung kandungan logam berat berbahaya seperti timbal, merkuri, kadmium dan Kromim. Tulus menilai, meskipun kadar kandungan logam yang terdapat pada mainan masih di dalam ambang batas alias wajar, tetapi menurutnya, hal itu sangat berbahaya bagi anak-anak.

“Seharusnya pemerintah membebaskan kandungan zat berbahaya terhadap mainan anak-anak. Jangan menggunakan standar yang paling rendah, itu sama saja meracuni. Kalau di negara lain kandungan berbahayanya bisa zero, kenapa kita tidak,” tegasnya.

Tulus beralasan bahwa anak-anak masih sangat rentan tekontaminasi zat berbahaya karena imunitas tubuhnya masih rendah. Ia juga mengimbau pemerintah untuk terus mendorong produsen-produsen lokal yang berkecimpung dalam pembuatan mainan anak agar bisa lebih berkreasi dalam membuat produk yang ramah untuk anak.

“Tidak boleh ada kandungan zat kimia apa pun pada mainan anak-anak. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memberikan dampak negatif pada kesehatan anak seperti misalnya gangguan pada saraf otak sampai kematian,” tutupnya.

Sumber: kompas.com