Penyakit tersebut tentu akan sangat sulit diatasi jika sudah menjadi insiden, apalagi jika tarafnya sudah stadium lanjut atau tingkat tinggi. Langkah terbaik adalah pencegahan, dengan kampanye hidup sehat, termasuk rajin olahraga.

Tema hari hak konsumen sedunia (15/03) tahun 2015 adalah pola konsumsi sehat (healthy diets). Salah satu tagline yang diangkat adalah “Healthy Food Now!” Sekaranglah saatnya mulai mengonsumsi pangan sehat. Nampaknya, tema ini relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia, dimana penyakit akibat konsumsi pangan yang tidak sehat, meningkat sedemikian pesat. Ironisnya, bukan hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga mulai menyerang anak dan remaja.

Dari data kesehatan yang dimiliki Indonesia, beberapa penyakit tidak menular nyatanya menduduki tataran atas penyakit yang banyak diserita oleh masyarakat, bahkan ada kecenderungan meningkat. Diabetes, kanker, dan jantung misalnya, jumlahnya cukup tinggi. Kendati secara prevalensi masih dibawah 10 persen, namun penyakit-penyakit tersebut mampu merenggut banyak nyawa penderitanya. Hal inilah yang wajib terus diwaspadai.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat; terdapat beberapa penyakit dengan tinggi prevalensi tertinggi di Indonesia yang menyebar di provinsi-provinsi di Indonesia. Adapun lima penyakit berprevalensi tertinggi adalah;

1. Hipertensi. Lebih dikenal masyarakat dengan nama tekanan darah tinggi. Penyakit ini menduduki prevalensi tertinggi di Indonesia, yaitu lebih dari seperempat, atau 25,8 persen. Di kalangan medis, hipertensi disebut juga silent killer, karena kadang tidak disadari, tetapi bisa merusak organ tubuh dan pemicu gagal ginjal, stroke, jantung. Hipertensi bisa terjadi karena banyaknya asupan yang cenderung menghambat atau menyempitkan aliran darah, seperti konsumsi berlebih garam, lemak tak jenuh, dan merokok.
Salah satu studi keterkaitan merokok dengan hipertensi didapat dari data autopsi mayat, dimana di dalam pembuluh darah perokok terdapat arteroskeleriosis akibat penumpukan nikotin dan bahan berbahaya lainnya dari rokok (sumber : Artikel Penelitian oleh Ekowati Rahajeng, Sulistyowati Ruminah; Prevalensi Hipertensi & Determinannya di Indonesia, Pusat Penelitian Biomedis & Farmasi Badan Penelitian Kesehatan, Depkes RI).
Sedangkan 3 (tiga) provinsi di Indonesia dengan serangan hipertensi tertinggi menurut data Riskesdas adalah Bangka Belitung (30,9%), Kalimantan Selatan (30,8%) dan Kalimantan Timur (29,6%).

2. Penyakit Sendi. Penyakit ini prevalensinya tertinggi kedua, yaitu 24,7 persen. Definisi penyakit ini disebutkan sebagai penyakit inflamasi sistemik kronik pada sendi-sendi tubuh. Ini terjadi karena adanya penumpukan kristal asam urat di jaringan ikat. Misalnya didaerah lutut, pangkal lengan, pergelangan tangan maupun kaki dan daerah-daerah yang bersendi. Gejalanya berupa nyeri, disertai kekakuan, merah, pembengkakan, yang bukan karena benturan ataupun kecelakaan.
Salah satu cara untuk mengatasi penyakit sendi ini diantaranya juga dengan menjaga pola makan, cukup asupan kalsium dan vitamin sendi lainnya, serta rajin olah raga. Seperti asam urat, maka harus diperhatikan pola makanan yang banyak mengandung purin, semisal jeroan, minuman beralkohol, ikan hering, kerang, udang dan seterusnya. Dan yang tak kalah penting dengan memperbanyak minum air putih, susu, buah-buahan ceri, seledri, jeruk dan sumber multivitamin lainnya. Menurut data riset kesehatan dasar, provinsi dengan prevalensi mengidap penyakit sendi tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan prevalensi (33,1%), Jawa Barat (32,1%) dan Bali (30,0%).

3. Penyakit hepatitis B. Secara nasional prevalensinya mencapai 21,8 persen, atau menempati urutan tertinggi. Hepatitis B merupakan penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Sebenarnya penyakit hati ini bukan saja karena virus, tetapi juga akibat paparan bahan kimia berbahaya, karena hati berfungsi untuk menetralkan racun di dalam tubuh.
Jika disebabkan virus, berhati-hatilah, karena virus ini sangat ganas, dan lebih cepat 10 kali dalam hal menularkan dibandingkan virus HIV. Sebenarnya ada herbal yang baik untuk kesehatan hati ini, dan sudah melalui uji klinis, bahkan telah masuk ke dalam resep dokter. Obat herbal dimaksud adalah curcumin. Zat aktif curcumin ini ditemukan di temulawak dan kunyit. Kedua rempah yang popular di Indonesia ini juga dikenal memiliki zat anti virus sehingga sangat baik, terutama sebagai upaya pencegahan dini. Provinsi dengan prevalensi tertinggi hepatitis B, yaitu Bangka Belitung (48,2%), kemudian Maluku (47,6%) dilanjutkan oleh DKI Jakarta (37,7%).

4. Serangan stroke. Di Indonesia prevalensinya mencapai 12,1%. Diantara semua jenis penyakit yang tinggi prevalensinya, stroke merupakan penyakit yang datanya paling pesat peningkatannya. Pada tahun 2007 prevalensinya berkisar pada angka 8,3%. Jumlah ini meningkat tajam pada tahun 2013 menjadi 12,1%. Oleh badan kesehatan dunia (WHO), stroke didefinisikan sebagai penyakit karena deficit fungsi susunan syaraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah di otak.
Stroke banyak dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat, pola makan sembarangan yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah di otak, gampang stress, kurang gerak. Apalagi dengan pola hidup perkotaan di mana mobilitas sangat tergantung kepada alat transportasi, bukan aktivitas fisik. Provinsi dengan prevalensi sroke tertinggi yaitu DI Yogyakarta (16,9%). Sulawesi Tengah (16,6%), dan disusul oleh Jawa Timur dengan prevalensi (16,0%).

5. Balita kurang gizi. Nampaknya penyakit ini sangat paradoksal di tengah pola konsumsi masyarakat yang mulai tidak terkontrol. Secara nasional, prevalensi balita kurang gizi mencapai 19,6 persen. Keadaan ini sangat memprihatinkan, sebab hampir 1 dari 5 balita di Indonesia mengidap kurang gizi.
Provinsi dengan prevalensi balita kurang gizi tertinggi adalah NTT (35%), kemudian Papua (32%), dan Maluku (30%). Kalau lebih detil lagi, data stunting (balita pendek) juga mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, yaitu 37,2 persen pada tahun 2013, meningkat dari data tahun 2010 sebesar 35,6 persen. Jadi, anak-anak Indonesia sudah kurang gizi, pendek pula.

Penyakit di atas, tentu akan sangat sulit diatasi jika sudah menjadi insiden, apalagi jika tarafnya sudah stadium lanjut atau tingkat tinggi. Langkah terbaik adalah pencegahan, dengan kampanye hidup sehat, termasuk rajin olah raga. Perlu keterlibatan semua pihak untuk mengampanyekan hal ini, terutama pemerintah sebagai garda terdepan.

Penulis : Ilyani S. Andang

  • ilma azizah

    Terima kasih informasi nya pak..
    kalau boleh tau, sumber informasi data nya dapat dari mana ya pak?

    terima kasih 🙂