Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
Indonesian Consumers Organization
"Melindungi Konsumen, Menjaga Martabat Konsumen, Membantu Pemerintah"

Akses Pengaduan

021-79191255

[login]

  • Hak dan kewajiban Konsumen

    Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) antara lain mengatur hak dan kewajiban konsumen

  • Konsultasi Konsumen

    Tanya Jawab seputar permasalahan konsumen.

  • Donasi

    Donasi anda dapat dikirim melalui rekening BCA

  • Pengaduan Konsumen

    Dasar utama dan sumber inspirasi YLKI dalam bertindak adalah keluhan konsumen.

Petisi untuk Ratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau

Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menyatakan bahwa Indonesia saat ini adalah negara terbesar ketiga pengguna rokok. selengkapnya

Jajak Pendapat

Yakinkah Anda, Calon Presiden 2009 mempunyai keberpihakan terhadap perlindungan konsumen di Indonesia?

tidak yakin
yakin
ragu-ragu
Artikel → View

Hati-Hati Pilih Wadah Makanan

Health News

Kandungan bahan kimia dalam produk rumah tangga terus dikaji. Salah satunya bisphenol A (BPA) yang diduga dapat memicu penyakit jantung dan diabetes.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) belum lama ini membahas kandungan bahan kimia BPA yang ditemukan pada botol susu bayi, kaleng makanan, dan bahan pengepak makanan lainnya, terhadap kemungkinan risiko penyakit jantung dan diabetes.

"Saat ini, kesimpulan sementara kami atas hal tersebut adalah aman. Jadi, kami tidak merekomendasikan perubahan kebiasaan," ujar Kepala Divisi Keamanan Bahan Tambahan Pangan (BTP), Badan Administrasi Pangan dan Obat Amerika Serikat (FDA), Laura Tarantino.

Kendati demikian, Laura tetap menganjurkan masyarakat untuk cerdas mengurangi paparan zat tersebut. Misalnya, konsumen dapat menghindari penggunaan wadah plastik berlabel daur ulang nomor "7" karena mengandung BPA. "Atau hindarilah memanaskan makanan dalam wadah seperti itu karena pemanasan akan membantu pelepasan zat kimia pada wadah tersebut," ujarnya.

Lebih dari 90 persen warga Paman Sam dilaporkan mempunyai jejak BPA di tubuh mereka, meskipun menurut FDA, kadarnya masih sangat rendah untuk bermanifestasi menjadi penyakit, bahkan pada balita dan anak-anak sekalipun. Di lain pihak, sejumlah ilmuwan mengatakan, BPA bisa berdampak pada tubuh manusia sekalipun pada kadar yang sangat rendah.

Sementara pada penelitian yang dikeluarkan Journal of the American Medical Association, September lalu, mengungkapkan, dugaan baru terkait BPA. Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 1.500 partisipan usia 18-74 tahun itu terungkap, mereka yang tercemar BPA dengan kadar lebih tinggi cenderung terkena diabetes dan penyakit jantung.

Penelitian masih dalam tahap awal dan masih jauh dari bukti bahwa bahan kimia itu yang menyebabkan masalah kesehatan. Dua analisis peneliti kesehatan dari Darmouth College mengatakan, hal tersebut mengundang pertanyaan besar yang belum diketahui jawabannya. "Untuk itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut," ujar Tarantino.

FDA memberikan argumentasi bahwa penelitian dengan tikus dan anak tikus lebih bisa diandalkan karena penelitiannya lebih sering dilakukan daripada beberapa penelitian dengan manusia yang kadang memunculkan keraguan.

Karena itu, pihaknya telah meminta badan peneliti lain guna memperoleh second opinion perihal keamanan BPA. Jika terbukti, FDA berwenang melarang atau membatasi penggunaan BPA pada wadah makan dan alat-alat kesehatan.

Penelitian terdahulu dengan menggunakan hewan telah mengindikasikan gangguan reproduksi dan hormon yang berhubungan dengan BPA. "JAMA merupakan penelitian terbesar yang mempelajari kemungkinan efek BPA terhadap manusia dan yang pertama memperlihatkan kemungkinan keterkaitan dengan penyakit jantung," ujar peneliti Frederick Vom Saal dan John Peterson Myers, keduanya anti-BPA.

Peneliti dari Inggris dan Universitas Iowa mempelajari penelitian dari Pemerintah AS terhadap 1.455 orang dewasa yang memberikan sampel urinenya pada 2003-2004 untuk mengetahui apakah mereka mempunyai beberapa penyakit serupa. Partisipan dibagi dalam empat grup berdasarkan kandungan BPA pada urine. Ternyata, lebih dari 90 persen menunjukkan kandungan BPA.

Sebanyak 79 partisipan juga pernah mengalami serangan jantung, nyeri dada, atau penyakit kardiovaskular lainnya, dan 136 didiagnosa diabetes. Bahkan, partisipan dengan penyakit jantung atau diabetes di grup dengan kadar BPA lebih tinggi jumlahnya hampir dua kali lipat dibandingkan grup dengan kadar BPA lebih rendah. Namun, penelitian ini tidak menunjukkan adanya kaitan antara BPA dengan penyakit lainnya, termasuk kanker.

"Tak ada satu pun dari partisipan yang memiliki kadar BPA yang lebih tinggi dari ambang batas kadar BPA yang direkomendasikan," kata Dr David Melzer, peneliti dari Universitas Exeter.

Lisa Schwartz dan Steven Woloshin dari Dartmouth Institute yang menangani Kebijakan Kesehatan mengatakan, penelitian tersebut tidak memberikan informasi yang jelas tentang apa yang menyebabkan sakit jantung dan diabetes pada para partisipan.

"Hasil penelitian mungkin saja menunjukkan mereka berpenyakit sekaligus mempunyai kadar BPA tinggi. Namun, mengingat pengukuran hanya dilakukan pada satu waktu dan satu kali, kita tidak tahu mana yang lebih dulu muncul, penyakitnya atau BPA-nya?" kata Schwartz.

American Chemistry Council, sebuah grup usaha industri berpendapat, penelitiannya memiliki banyak kekurangan, mempunyai batasan dan tidak dapat membuktikan apa-apa. Namun, Dr Ana Soto dari Universitas Tufts menilai bahwa penelitian itu cukup "menegur" pemerintah supaya mereka segera membatasi pencemaran BPA. "Untuk tujuan melindungi kesehatan manusia, kita tidak perlu menunggu sampai penelitian berikutnya," sebutnya.
(sindo//tty)
 

Sumber: Okezone

 

Tanggapan: 0

Beri Tanggapan

Gunakan Gambar Lain

Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. YLKI berhak untuk menghapus komentar jika dianggap tidak relevan, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

BIT powered