ASI

Jerat Produsen Susu Formula Mengganti ASI ke Bayi

by admin • September 5, 2012

Setiap tanggal 1 – 7 Agustus selalu diperingati sebagai Pekan ASI (Air Susu Ibu) se-dunia. Dan tahun ini, 2012, temanya adalah Rumah Sakit (RS) Sayang Ibu (Baby Friendly Hospital Initiative). Memang, RS berperan dalam ‘menjaga’ para ibu agar tetap bisa menyusui bayinya, tanpa harus ‘diganggu’ oleh pemasaran susu formula. Itu idealnya. Tetapi praktiknya? Nah, praktiknya memang baru sebagian kecil RS Bersalin yang konsisten. Sementara yang lainnya, masih banyak yang ‘bermain mata’ dengan produsen susu formula. Seperti kemaren saya mendapat cerita temen yang baru melahirkan di RS di Bekasi. Begitu pulang ke rumah, ada agen penjual susu formula datang ke rumahnya. Agen ini begitu gencar menawarkan produk susu formula tersebut, hingga sang ibu pun akhirnya membeli. Dugaan kami dari praktik ini, si produsen susu formula mendapat data dari RS tempat si ibu melahirkan. Dan pengalaman ini juga dialami oleh ibu ibu yang lain. Dimana ketika mereka pulang dari RS, telpon atau kunjungan dari produsen susu formula kerap terjadi. Dan Indonesia memang surganya para penjual susu formula. Kisaran pasar yang bermain disini US$136 million, sementara susu bayi (diatas 6 bulan)mencapai US$ 1.15 billion! Dan itu semua merk perusahaan TNC atau TransNational Company, baik yang ada pabriknya di Indonesia, maupun murni impor dari negara lain. Dan ibu yang menyusui ekslusif 6 bulan pun menurun dari 14% menjadi hanya 10%!. Bayangkan! Air Susu Ibu (ASI) yang gratis pada bayi, bisa diganti dengan susu bubuk yang mahalnya minta ampun itu. Padahal menyusui ASI kan mudah sekali, sementara perlengkapan untuk membuat susu formula yang bubuk itu sulit. Mulai dari mensterilkan botolnya, mengaduk dengan air hangat yang cukup, dengan takaran yang pas. Dan tingkat sterilisasinya juga diragukan, apalagi kalau digunakan oleh kalangan menengah ke bawah. Jauh lebih steril ASI kemana mana, langsung dari sumber produksinya. Dan kasus kasus yang menimpa susu formula terkait kualitasnya juga banyak. Mulai dari tercemar bakteri (ingat kasus Sakazakii yang tidak terungkap hingga sekarang, sementara di negara lain, kasus Sakazaki diumumkan dan produk susu tercemar ditarik di depan publik), tercemar melamin (kasus di China), tercemar logam berat, dan seterusnya. Jadi, mengapa para ibu sekarang lebih memilih memakai susu formula? Ini memang akibat praktik pemasaran susu formula yang amat gencar. Iming iming seolah bayi jadi jenius, lucu dan menggemaskan dengan meminum susu ini. Gambar visual yang membuai otak konsumen, dan menggerakkan perilaku konsumtif tak terperi, yang mengabaikan hak bayi atas ASI tersebut. Jadi, bukan lagi ‘permintaan menciptakan penawaran’. Tetapi ‘penawaran lah yang menciptakan permintaan’, melalui pemasaran yang melanggar kode etik tersebut. Penawaran ini mendikte konsumen untuk membeli produk yang tidak dibutuhkannya. Dan sayangnya, PP ASI (baru terbit Mei 2012) di Indonesia justru memberi peluang untuk ‘main mata’ tersebut. Padahal PP ini ‘dikawal’ oleh UNICEF. Dan UNICEF sekarang justru lagi gencar menggalang dana dari masyarakat Indonesia. Maksudnya seharusnya UNICEF juga saklek dalam berhadapan dengan produsen susu formula ini. Bukan dengan ‘membiarkan’ sebuah pasal bias di dalam PP ASI yang bagaikan nila setitik bisa rusak susu sebelanga. Dalam salah satu pasalnya (Pasal 21 ayat 2) disebutkan bahwa pelaku usaha susu formula dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dengan membiayai kegiatan pelatihan, penelitian, dan pengembangan, pertemuan ilmiah, dan/atau  kegiatan lainnya  yang sejenis. Bunyi pasal ini bias sekali. Akan sangat sulit mengharapkan independensi jika tenaga kesehatan dibiayai oleh produsen susu formula. Walaupun disebutkan ‘tidak mengikat’ dan lain lain. Jadi, akan tetap terlihat nantinya, siapa mengontrol siapa? Mudah mudahan, pasal karet ini beneran akan digugat uji materi oleh koalisi ASI ke MA. – Ilyani Sudardjat –