kesehatan anak

Sorotan YLKI: WASPADAI BAHAYA LATEN OBESITAS pada ANAK di INDONESIA.

by admin • October 1, 2019

Terkait tumbuh kembang anak, Indonesia adalah negeri paradoks. Bagaimana tidak paradoks, bahkan ironis, manakala sebagian anak mengalami malnutrisi/gizi buruk, sebagian lagi mengalami kegemukan/overweight, dan tragisnya sebagian lagi mengalami obesitas, kegemukan yang amat ekstrim. Dan sebagian yang lain mengalami stunting, anak dengan tubuh pendek, kontet. Meninggalnya Satya, seorang bocah di Karawang, usia 7 (tujuh) tahun dan dengan berat badan 110 kg; adalah bukti nyata paradoks tersebut. Meninggalnya Satya, tidak bisa dilihat secara kasuistik saja, tetapi ini lonceng yang amat keras bahwa ada sesuatu yang amat membahayakan terkait fenomena kegemukan dan atau obesitas pada anak, dengan rentang usia 5-12 tahun. Terbukti, berdasarkan Riskesdas 2015, prevalensi anak Indonesia yang mengalami obesitas sebanyak 18,8 persen, dengan sebaran 9,4 persen laki laki dan 6,6 persen perempuan; plus, 9,1 persen di perkotaan dan 7,1 persen diperdesaan. Bahkan, menurut data WHO, prevalensi obesitas anak di Indonesia adalah tertinggi di ASEAN, yakni 12 persen. Oleh karena, atas meninggalnya Satya Putra, harus menjadi lompatan serius bagi pemerintah, masyarakat dan stakeholder lain untuk secara bersama sama memerangi fenomena obesitas pada anak. Harus ada langkah radikal untuk hal tersebut, misalnya: 1. Kemenkes dan Badan POM harus berani menurunkan makanan/minuman instan yang sangat tinggi kandungan gula, garam dan lemak (GGL). Sebab jenis makanan/minuman jenis inilah yang sangat digandrungi anak anak usia dini. sementara di pasaran sangat marak jenis makanan/minuman yang sangat tinggi mengandung GGL. Apalagi dengan pemasaran/iklan yang sangat masif. YLKI juga menyoal Kemenkes/Badan POM yang sampai saat ini tidak berani mengimplementasikan Permenkes No. 30/2013, tentang kewajiban pencancuman informasi GLL, yang sampai detik ini belum diterapkan. Pemerintah jangan hanya mementingkan sisi industri saja, tetapi menggadaikan masa depan anak dan remaja Indonesia; 2. Kemendiknas dan pihak sekolah harus terlibat aktif dalam upaya pengendalian kegemukan dan obesitas pada anak usia sekolah. Sebagai contoh, di Singapura, jika anak SD mengalami kegemukan maka anak tersebut tidak bisa naik kelas. Hal seperti ini bisa diterapkan di lingkungan sekolah di Indonesia. Atau setidaknya pihak sekolah punya program khusus untuk anak anak didik yang punya masalah kegemukan, dan menyediakan kantin yang sehat, bukan jenis junk food. Jika hal ini tidak menjadi perhatian serius dan kebijakan radikal, maka klaim munculnya generasi emas hanyalah mimpi di siang bolong. Bagaimana mau mencapai generasi emas.. jika yang muncul adalah generasi sakit, akibat kegemukan, obesitas dan hobby merokok. Ingat, perokok perokok pemula di kalangan anak dan remaja di Indonesia prevalensinya tertinggi dan tercepat di dunia, yakni 19 persen. Demikian. Terima kasih. Wassalam, Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI


Pola Konsumsi dan Biaya Kesehatan

by admin • December 15, 2017

Indonesia, seperti juga negara berkembang lainnya, saat ini mengalami beban ganda di bidang gizi. Selain masih harus menghadapi kasus-kasus gizi buruk, prevalensi angka kegemukan dan obesitas juga meningkat. Hal ini masih ditambah lagi dengan masalah stunting dengan prevalensi yang cukup tinggi serta penyakit tidak menular yang juga meningkat sangat cepat. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan hal ini. Prevalensi gizi kurang pada balita mencapai 19,6 persen, masih meningkat dibandingkan tahun 2007 (18,4 persen), dan balita pendek mencapai 37,2 persen. Sementara prevalensi berat badan lebih dan obesitas meningkat menjadi 26,3% dibandingkan 21,7% (2010). Kecenderungan penyebab kematian di Indonesia bergeser dalam dekade terakhir. Kalau di tahun 1990-an penyebab kematian terutama adalah penyakit menular, tahun 2000-an kematian disebabkan penyakit tidak menular meningkat, bahkan pada 2010 mencapai 58 persen dibandingkan kematian akibat penyakit menular yang tinggal 33 persen. Pergeseran pola penyakit juga terlihat dalam beberapa dekade ini. Di tahun 1990-an hanya stroke yang termasuk dalam 10 penyakit dengan beban terbesar. Namun di tahun 2010 stroke menduduki tempat pertama, dan penyakit jantung ada di posisi ke lima (sebelumnya di peringkat 13) serta diabetes di peringkat ke enam, naik dari posisi 16 di tahun 1990-an. Empat dari lima besar penyebab kematian utama berdasarkan Sample Registration System 2014 adalah penyakit tidak menular. Stroke merupakan penyebab tertinggi, mencapai 21,1%, diikuti dengan penyakit jantung koroner 12,9 persen, diabetes melitus 6,7 persen, dan hipertensi 5,3 persen. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi hipertensi mencapai 25,8 persen; stroke 12,1 persen, meningkat dari 8,3 persen (2007). Demikian juga diabetes melitus sebesar 6,9 persen. Prevalensi jantung koroner pada usia di atas 15 tahun mungkin terlihat kecil, 1,5 persen. Akan tetapi penyakit ini menjadi penyebab kematian kedua di Indonesia, setelah stroke. Data telah menunjukkan berbagai penyakit ini menjadi penyebab kematian utama, namun bagi penyandang penyakit tidak menular yang masih diberi kesempatan ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memelihara dan mengelola hidupnya. Pada umumnya mereka harus menjalani pengobatan dan mengonsumsi obat-obatan seumur hidup. Biaya kesehatan Biaya kesehatan di Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan sebesar 11,5 persen terjadi dari tahun 2011 sampai 2012. Pada tahun berikutnya, meningkat lagi sebesar 12,5 persen. Beban biaya kesehatan ini tersebar pada beberapa pihak, terutama masyarakat, mengingat selama ini layanan kesehatan menganut sistem fee for services, kecuali pada sebagian kecil masyarakat seperti pegawai negeri, anggota militer, dan pensiunan yang dilindungi oleh asuransi kesehatan. Dengan diberlakukannya UU Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Indonesia menerapkan Jaminan Kesehatan menyeluruh. Secara bertahap, setiap warga negara Indonesia harus menjadi peserta BPJS Kesehatan dan berhak mendapatkan jaminan kesehatan. Sistem ini memberi ruang kesempatan bagi mereka yang selama ini tidak mampu atau tidak berani mengakses layanan kesehatan. Data BPJS Kesehatan menunjukkan sepanjang tahun 2014 berhasil menggaet 133 juta peserta. Namun baru 6 persen merupakan peserta mandiri. Selebihnya adalah peserta menerima bantuan iuran dari pemerintah dan pemerintah daerah serta peserta ASKES, ASABRI dan sejenisnya yang secara otomatis bermigrasi menjadi peserta BPJS Kesehatan. Sayangnya, premi yang berhasil dikumpulkan ternyata masih belum memadai. Masih di tahun yang sama, klaim yang harus dibayarkan BPJS Kesehatan Rp 42,6 triliun, masih lebih besar Rp 1,6 triliun dari premi yang terkumpul. Banyaknya kasus-kasus penyakit dengan biaya tinggi diduga menjadi penyebab tingginya klaim yang harus dibayarkan. Penyakit-penyakit yang tergolong penyakit tidak menular membutuhkan biaya yang tinggi. Seperti operasi jantung, cuci darah yang harus dilakukan secara teratur, atau hipertensi yang harus mengonsumsi obat seumur hidup, semua layanan itu dapat diperoleh oleh peserta BPJS. Data yang dilansir Kementerian Kesehatan menunjukkan beban biaya penyakit yang tergolong penyakit katastropik: jantung, stroke, diabetes, ginjal, kanker, talasemia dan hemofili, yang cukup tinggi. Lima penyakit yang disebutkan pertama sangat erat kaitannya dengan gaya hidup dan pola konsumsi yang salah, khususnya untuk penyakit jantung, stroke dan diabetes. Disebutkan bahwa 1.029.717 kasus rawat jalan menghabiskan biaya sebesar Rp. 1.034 milyar. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus dan biaya semua penyakit, terlihat betapa jenis penyakit ini menghabiskan biaya yang besar. Dalam hitungan kasus hanya 8 persen, tetapi menghabiskan biaya sampai 30 persen. Demikian pula untuk rawat inap. Meskipun data hanya berasal dari BPJS, menunjukkan penyakit jantung, stroke dan diabetes saja, menguras hampir seperempat (23,1 persen) jumlah biaya seluruh penyakit. Jika ditambahkan biaya penyakit ginjal dan kanker mencapai 31,5 persen. Dapat dibayangkan besarnya beban kesehatan apabila prevalensi penyakit ini terus meningkat setiap tahunnya. Berbagai penyakit tidak menular ini sebenarnya dapat dikelola dan dicegah. Apabila upaya promotif dan preventif tidak dilakukan, diantaranya dengan memperbaiki gaya hidup dan pola konsumsi pangan, dikhawatirkan beban kesehatan yang harus ditanggung akan semakin besar. Pola konsumsi Benarkah pola konsumsi pangan saat ini berpotensi meningkatkan prevalensi penyakit tidak menular? Buruknya pola konsumsi ditunjukkan oleh data Riskesdas 2013 dimana  93,5 persen penduduk di atas 10 tahun kurang mengonsumsi sayuran dan buah. Angka ini hanya sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 93,6 persen. Konsumsi buah dan sayuran  yang dianjurkan adalah 400-600 gram per orang per hari. Namun data dari Studi Diet Total yang dilakukan Litbang Kementerian Kesehatan menunjukkan konsumsi sayuran rata-rata hanya 57,1 gram per orang per hari dan konsumsi buah hanya 33,5 gram per orang per hari. Yang cukup memprihatinkan adalah mi tampaknya sudah menjadi makanan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia, bahkan anak-anak. Konsumsi mi lebih dari 1 kali seminggu pada anak usia 10-14 tahun mencapai 90,5 persen. Dan 51 persennya mengonsumsi lebih dari 3 kali seminggu. Padahal pola dalam mengonsumsi mi sangat berpotensi tidak memenuhi kebutuhan gizi yang baik. Masih dari sumber data yang sama, penduduk di atas 10 tahun mengonsumsi makanan berisiko cukup tinggi: 53 persen mengonsumsi makanan manis, 41 persen makanan berlemak, 26 persen makanan asin, serta 77 persen mengonsumsi bumbu penyedap dan 29 persen kopi. Dari informasi ini, lengkap sudah berbagai faktor pemicu penyakit tidak menular pada bangsa Indonesia. Survei yang pernah dilakukan YLKI pada tahun 2012 menunjukkan kecenderungan pola konsumsi yang serupa. Responden merupakan 609 orang tua murid SD dan TK. Hampir 50 persen responden mengonsumsi makanan kemasan siap saji atau makanan instan 2-3 kali dalam seminggu. Makanan instan yang paling banyak dikonsumsi adalah mi instan dan diikuti oleh nugget dan sosis. Membawa bekal ke sekolah dianjurkan untuk menghindari jajan