Pangan Sehat

Mengapa Lemak Trans Perlu Dieliminasi?

by admin • October 27, 2023

Konsumen membutuhkan informasi secara utuh sebelum menjatuhkan pilihan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk. Dengan mengetahui informasi berupa kandungan, proses produksi, pemasaran dan sebagainya, konsumen dapat menjatuhkan pilihan secara bertanggungjawab terhadap diri sendiri, lingkungan dan sosial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan bertajuk “WHO Report on Global Trans Fat elimination 2022” menyebutkan bahwa sebanyak 5 miliar orang di seluruh dunia menghadapi dampak kesehatan akibat dari konsumsi lemak trans. Apa itu lemak trans? Nah sebelum pembahasan lebih jauh, perlu diketahui bahwa ada 2 (dua) jenis lemak trans.; pertama lemak trans alami; yaitu lemak yang secara alami terbentuk dalam lambung (rumen) hewan ternak besar seperti sapi, domba dan kambing. Karena terbentuk di dalam rumen maka disebut dengan istilah lemak trans ruminansia. Jumlah yang dihasilkan sangat kecil (6%). Para ahli menganggap bahwa lemak trans jenis ini tidak berbahaya pada kesehatan manusia. Jenis kedua; lemak trans industrial, yaitu lemak trans yang dibuat melalui proses industri. Pembuatan lemak trans jenis ini dengan cara memadatkan minyak nabati cair dengan gas hidrogen pada suhu panas dan tekanan tinggi yang dikenal dengan istilah hidrogenasi. Dalam bahasa lebih sederhana, mengubah lemak cair menjadi padat. Proses hidrogenasi dilakukan oleh industri dengan alasan prosesnya murah, umur penyimpanan lebih panjang, dapat digunakan dalam beragam pangan olahan (serbaguna) serta memiliki karakter stabil dalam memberikan cita rasa. Di pasar produk hidrogenasi ini popular dalam bentuk margarin atau shortening (mentega putih). Namun dibalik kelebihan yang ditawarkan, lemak trans industrial membawa ancaman yang sangat besar.  Lemak trans merupakan salah satu bentuk lemak yang berbahaya bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Dalam pedoman WHO menyarankan agar konsumsi lemak trans tidak boleh melebih 1% dari total asupan kalori harian. Jika total asupan kalori harian sebanyak 2000 kalori, maka konsumsi lemak trans tidak melebihi 2 gram lemak per harinya. Konsumsi melebihi batas ambang yang disarankan, berpotensi mengganggu Kesehatan. Para ahli sepakat bahwa lemak trans berbahaya bagi manusia karena mampu meningkatkan LDL – Low Density Lipoprotein (kolesterol jahat) dalam tubuh serta menghambat pertumbuhan HDL – High Density Lipoprotein (kolesterol baik). Mereka menganggap lemak trans lebih berbahaya dari lemak jenuh jenis lainnya. Sebab lemak jenuh hanya menaikkan LDL tetapi tidak menghambat HDL. Akibatnya, lemak trans dipercaya dapat memicu risiko penyakit jantung koroner (PJK). Sedangkan penyakit jantung koroner merupakan salah satu jenis penyakit yang masuk dalam kategori katastropik. Yaitu penyakit berbiaya mahal dan membutuhkan perawatan medis lama. Data BPJS Kesehatan (2020) terkait biaya penyakit katastropik telah menyedot total anggaran 20 triliun rupiah. Dari delapan jenis penyakit katastropik yang menyedot anggaran, penyakit jantung menempati posisi pertama dalam proporsi pembiayaan (49%), disusul kanker (18%), dan stroke. Artinya dari Rp20 triliun biaya katastropik tersebut, sekitar Rp9,8 triliun dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membayar pelayanan kesehatan peserta JKN-KIS yang mengidap penyakit jantung dengan jumlah kasus 12,9 juta. Jumlahnya meningkat di 2022, BPJS Kesehatan mengeluarkan total anggaran sebesar Rp 12,144 triliun khusus untuk penanganan penyakit jantung yang mencapai 15.496.666 kasus. Ini tidak bisa didiamkan. Kerugian akibat penyakit jantung, tidak hanya berdampak signifikan bagi ekonomi keluarga pasien, tetapi juga pada pembiayaan yang ditanggung oleh JKN-KIS. Oleh karena itu, banyak pakar dan praktisi kesehatan mewanti-wanti pentingnya mencermati kebiasaan makan. Salah satu saran yang kerap sekali mereka sampaikan yakni untuk menghindari makanan yang mengandung lemak trans. Asimetris Informasi Tetapi dalam kasus kandungan lemak trans pada makanan, konsumen tidak memiliki informasi yang utuh. Apakah pangan olahan yang mereka beli terbebas dari lemak trans. Padahal konsumen membutuhkan informasi secara utuh sebelum menjatuhkan pilihan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk. Dengan mengetahui informasi berupa kandungan, proses produksi, pemasaran dan sebagainya, konsumen dapat menjatuhkan pilihan secara bertanggungjawab terhadap diri sendiri, lingkungan dan sosial. Tetapi secara faktual di lapangan, informasi yang dibutuhkan oleh konsumen sangat terbatas. Selain informasi yang terbatas, konsumen juga dibenturkan pada informasi dalam bentuk huruf yang sangat kecil serta menggunakan bahasa teknis yang sulit dipahami masyarakat awam. Dalam konteks pencantuman informasi (labelling) kandungan lemak trans pada pangan olahan di Indonesia, bersifat voluntary. Artinya belum ada regulasi yang memaksa pelaku usaha wajib mencantumkan ada/tidak kandungan lemak trans industrial. Jika merujuk pada Undang-undang Perlindungan Konsumen bahwa salah satu hak dasar konsumen adalah hak atas informasi, dengan demikian dibutuhkan adanya transparansi produk sebagai bentuk pemenuhan hak konsumen. Namun yang terjadi justru konsumen harus menelan senyawa berbahaya yang ditambahkan pada bahan pangan tanpa persetujuan konsumen. Lemak trans industrial ditambahkan pada beberapa pangan olahan untuk membuat makanan menjadi krispi, bertekstur diikuti dengan aroma gurih dan sedap. Selama  tidak ada regulasi tentang kewajiban untuk mencantumkan kandungan lemak trans pada label pangan, maka akan terjadi asimetris informasi. Konsumen dipaksa menerima kenyataan memilih pangan olahan dengan informasi yang sangat terbatas. Oleh karena itu, perlu ada ketegasan dari pemerintah untuk segera mewajibkan pencantuman ada tidaknya kandungan lemak trans dalam label kemasan makanan. Agus Sujatno Pengurus Harian YLKI Dirangkum dari berbagai sumber


Kiat Cerdas Beli Bahan Pangan Selama Ramadan

by admin • May 7, 2019

Hari ini masyarakat Indonesia mengawasi Puasa Ramadan 1440 Hijriyah. Lazimnya selama puasa terjadi peningkatan kebutuhan terhadap komoditas pangan, baik pangan olahan dan atau pangan segar. Selain itu akan banyak bermunculan penjaja makanan/minuman untuk takzilan, baik dalam skala besar atau pun kecil. Dan patut diduga banyak bahan pangan yang tidak aman beredar di pasaran, demi menyasar meningkatnya permintaan konsumen. YLKI merekomendasikan beberapa kiat memilih bahan pangan selama Ramadan, yakni: 1. Pastikan bahan pangan tersebut aman untuk dikonsumsi, misalnya cek tanggal kadaluwarsanya, cek kemasannya, jika sudah rusak, atau penyok, jangan dipilih; 2. Pastikan bahan pangan tersebut tidak tercemar bahan berbahaya. Tinggalkan jika warnanya terlalu mencolok, seperti terlalu kuning, terlalu hijau, terlalu merah, dan seterusnya.  Atau pun baunya terlalu menyengat; 3. Pastikan bahan pangan tersebut tidak dikemas dengan bahan kemasan yang tidak sehat dan merusak lingkungan. Misalnya menggunakan sterofoam, koran bekas; apalagi untuk makanan terbuka dan panas, berlemak tinggi, misalnya gorengan; 4. Jika pangan olahan dan pabrikan, pastikan tercantum nama dan alamat yang jelas dari perusahaan yang bersangkutan. Hal ini untuk memudahkan jika kita akan melakukan komplain; 5. Berkonsumsilah secara wajar dan jangan berlebihan. Jangan sampai bahan pangan yang kita konsumsi banyak menyisakan sampah makanan (food waste). Demikian. Selamat berpuasa. TULUS ABADI KETUA YLKI


You Are What You Eat

by admin • October 16, 2018

Diet yang berlebihan bukan merupakan solusi yang tepat. Tubuh kita memerlukan semua unsur gizi. Karbohidrat, lemak, protein, serta vitamin dan mineral harus dikonsumsi dalam jumlah seimbang. Judul di atas merupakan ungkapan yang kerap kita dengar. Ya, diri kita, tubuh kita, kesehatan kita, memang tergantung pada apa yang kita masukkan ke dalam tubuh, apa yang kita makan. Makan tidak hanya sekadar untuk memenuhi panggilan rasa lapar semata. Makan dan makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh, akan menentukan kualitas hidup kita. Oleh karena itu, asupan makanan harus memberi makna pada tubuh dan kehidupan kita. Tidak dipungkiri, lidah merupakan indra yang paling menentukan apa yang kita makan. Pertanyaan pertama yang selalu ditanyakan tekait makanan adalah rasa: enak atau tidak enak. Jarang sekali kita mempertanyakan sehat atau tidak. Makanan memang salah satu kebutuhan dasar yang diperlukan untuk mempertahankan hidup. Rasa memang menentukan kenikmatan saat mengonsumsi makanan dan minuman. Namun, sudah seharusnya kita mulai memaknai lebih jauh lagi: kesehatan dan kualitas hidup sangat dipengaruhi apa yang kita makan. Dibutuhkan Tubuh Tubuh kita membutuhkan asupan makanan yang beragam. Kecenderungan makan asal kenyang tidak akan sempurna memenuhi kebutuhan ini. Yang mungkin masih lekat dalam ingatan adalah ungkapan “empat sehat lima sempurna”. Konsumsi makanan harus memenuhi unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral. Empat unsur ini perlu disempurnakan dengan mengonsumsi susu. Mungkin inilah salah satu penyebab para ibu menjadi panik apabila buah hatinya tidak suka minum susu. Pola empat sehat lima sempurna sudah tidak memadai lagi, kemudian Kita kenal piramida gizi seimbang. Dalam bentuk piramida inilah digambarkan jumlah masing-masing sumber gizi yang harus dikonsumsi. Pada barisan paling bawah seringkalii ditambahkan konsumsi air putih dua liter sehari. Kemudian asupan yang paling banyak adalah karbohidrat. Karbohidrat memenuhi 50 persen sumber energi kita. Macamnya bisa apa saja, mulai nasi, umbi-umbian, jagung, sagu, dan sebagainya. Berikutnya, dalam jumlah yang lebih sedikit adalah protein. Protein dapat dipenuhi dari sumber hewani atau nabati. Dalam kelompok ini ada daging, ayam, ikan, juga berbagai jenis kacang-kacangan. Tahu dan tempe juga ada dalam kelompok ini. Pada tingkatan berikutnya adalah berbagai jenis buah dan sayuran. Buah dan sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral. Asupan makanan ini seringkali terabaikan. Dan jamak kita dengar anak-anak sulit mengonsumsi sayur. Tidak heran jika industri pun menciptakan jalur pintas pemenuhan 20 jenis sayur sekaligus dalam satu butir tablet atau kapsul. Perlu diwaspadai adalah konsumsi berbagai makanan dan minuman yang merupakan sumber gula dan lemak. Jenis ini yang  biasanya justru diminati dan dikonsumsi berlebihan. Termasuk di dalamnya gula, coklat dan lainnya. Perlu Dihindari Ada lima jenis makanan yang perlu diwaspadai untuk hidup sehat berkualitas: lemak, garam, tepung, susu, dan gula. Bukannya tidak boleh dikonsumsi sama sekali, tetapi perlu diperhatikan asupannya. Ada dua jenis lemak: lemak jenuh dan tidak jenuh. Yang perlu dihindari terutama adalah lemak jenuh. Apa saja yang merupakan sumber lemak jenuh? Daging merah, margarin, susu, biskuit serta berbagai cemilan lain. Lemak perlu diolah melalui hati. Konsumsi yang berlebihan akan memberi beban kerja lebih pada hati. Akibatnya, tugas hati yang sesungguhya untuk memerangi racun yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat berfungsi baik. Garam dibutuhkan tubuh untuk membantu metabolisme. Tetapi konsumsi yang berlebihan dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi, yang merupakan pemicu penyakit jantung. Celakanya, seringkali kita tidak menyadari berapa banyak garam yang masuk ke dalam tubuh. Jajanan, camilan, termasuk sumber garam yang mungkin tidak kita perhitungkan. Mengingat risiko konsumsi garam yang tersembunyi, Badan Kesehatan Dunia sudah mengampanyekan untuk mengurangi jumlah garam yang dikonsumsi. Indonesia pun tidak ketinggalan. Sumber lain yang perlu diwaspadai adalah tepung terigu. Tepung yang berwarna putih ini telah melalui pengolahan sedemikian rupa, yang menyebabkan hilangnya berbagai sumber gizi mikro dan serat. Tepung ini menjadi bahan baku utama berbagai camilan, pada umumnya mempunyai rasa yang manis seperti berbagai jenis kue dan biskuit. Selama ini susu dianggap sebagai sumber pangan yang baik, bahkan dengan susulah konsumsi kita menjadi sempurna. Belakangan pandangan tersebut sudah mulai bergeser. Bahkan susu dikaitkan dengan osteoporosis: bukannya pencegah tetapi pemicu!. Susu sebenarnya merupakan sumber protein, dan seringkali dijadikan sumber kalsium juga.  Tetapi konsumsi susu yang berlebihan justru dapat menggerogoti kalsium yang ada dalam tulang. Osteoporosis disebabkan oleh hilangnya kalsium, bukan karena kurangnya asupan kalsium. Kandungan protein yang tinggi pada susu justru dapat mengakibatkan kehilangan kalsium. Selain itu, belakangan ini banyak jenis minuman yang ditujukan untuk anak, anak mengklaim mengandung susu dengan berbagai rasa. Hati-hati, jenis minuman ini justru cenderung mengandung gula yang tinggi. Yang dapat berakibat anak potensi mengalami kelebihan berat badan. Jenis bahan makanan lain yang disukai tapi perlu diwaspadai adalah gula. Gula merupakan sumber karbohidrat sederhana yang sangat mudah dicerna. Gula ada di berbagai jenis makanan yang cenderung sangat disukai, termasuk anak-anak. Lihat saja berbagai jenis minuman ringan, permen, coklat serta camilan lain yang sebenarnya tidak mengandung nilai gizi selain rasa manis. Ternyata gula memiliki sifat adiktif, menyebabkan selalu ingin dan ingin mengonsumsi lagi. Konsumsi gula yang berlebih dapat mengganggu sistem imun tubuh, serta berpotensi menyebabkan penyakit diabetes serta penyakit degeneratif lain akibat kelebihan berat badan. Bagaimana Sebaiknya? Mulailah berkonsumsi secara benar. Diet yang berlebihan bukan merupakan solusi yang tepat. Tubuh kita memerlukan semua unsur gizi seperti yang ada dalam piramida gizi seimbang. Karbohidrat, lemak, protein, serta vitamin dan mineral harus dikonsumsi dalam jumlah seimbang. Dan jangan lupa perhatikan kualitas serta jenis yang beragam. Nasi bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Variasikan dengan sumber pangan lokal lain seperti ubi-ubian. Ubi merah dan ubi ungu, misalnya, mengandung betakaroten, vitamin C, vitamin E yang bermanfaat sebagai antioksidan, serta mengandung serat yang baik. Untuk sumber protein, jangan tergantung pada daging, karena daging juga mengandung lemak dan sumber kolesterol. Penuhi kebutuhan protein dengan sumber lain seperti ikan-ikanan, serta protein nabati seperti kacang-kacangan. Tubuh memerlukan lemak, tapi perhatikan asupannya. Untuk amannya, batasi menu goreng menggoreng di dapur Anda. Makanan di luar rumah mungkin sangat tinggi kandungan lemaknya. Sayur dan buah merupakan jenis makanan yang seringkali terlupakan. Pastikan selalu ada menu sayuran di rumah Anda. Buahpun seharusnya tersedia setiap hari. Ingat! Pilihlah buah-buahan lokal yang murah meriah seperti pepaya yang tersedia sepanjang tahun. serta buah yang sedang musim lainnya. Hindari buah-buahan impor karena berpotensi mengandung residu pestisida atau pengawet lainnya. Menu


logo YLKI feature

Recommendations for a convention on healthy diets

by admin • May 17, 2015

Kenapa ini penting? Membantu konsumen memilih diet yang sehat Latar Belakang Kenapa Perlu Global Convention: Diet atau pola makan yang buruk saat ini telah menjadi penyebab kematian dini secara global. 11 juta orang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan kanker, penyakit jantung, dan diabetes setiap tahunnya Diet dengan lemak, gula dan garam tinggi, serta rendah sayur dan buah menjadi risiko utama penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker. Penyakit tidak menular ini meningkat sangat cepat, terutama di negara sedang berkembang. Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi berat badan lebih dan obesitas meningkat menjadi 26,3% dibandingkan 21,7% (2010). Prevalensi hipertensi mencapai 25,8%. Stroke 12,1 persen, meningkat dari 8,3 persen (2007). Data Riskesdas 2013 menunjukkan: – 93,5 persen penduduk di atas 10 tahun kurang mengonsumsi sayuran – 90,5 persen anak usia 10-14 tahun mengonsumsi mie instan lebih dari 1 kali seminggu. 51 persennya mengonsumsi lebih dari 3 kali seminggu – Penduduk di atas 10 tahun mengonsumsi makanan berisiko cukup tinggi: 53 persen makanan manis, 41 persen makanan berlemak, 26 persen makanan asin, serta 77 pesen mengonsumsi bumbu penyedap dan 29 persen kopi Peningkatan diet yang buruk dan akibatnya obesitas dan penyakit tidak menular dikaitkan dengan peningkatan konsumsi pangan olahan yang seringkali tinggi lemak, garam dan gula. Konsumen memilih pangan olahan karena beberapa alasan: – Pangan olahan seringkali lebih murah dari pangan yang lebih sehat – Ketersediaan pangan olahan meningkat – Marketing pangan olahan yang agresif Selain konsumsi pangan olahan, konsumen juga cenderung makan makanan yang diolah di luar rumah, seperti jajanan, warung, dan restoran. Makanan ini juga cenderung tinggi lemak, garam, gula.   [gview file=”https://ylki.or.id/wp-content/uploads/2015/05/recommendations-for-a-convention-on-healthy-diets.pdf” save=”1″]


Seimbangkah Pola Makan Keluarga Anda?

by admin • November 6, 2012

Dalam prinsip pola makan seimbang menganjurkan porsi yang berimbang antara sumber-sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Sebagai bahan perbandingan, beberapa komunitas masyarakat menikmati usia tua yang produktif (hidup sehat hingga 100 tahun), seperti suku Hunza di Himalaya dan Okinawa di Jepang. Mereka memiliki pola makan yang lebih sehat yaitu dengan mengonsumsi sayur dan buah lebih banyak, mengonsumsi makanan segar (fresh, bukan olahan pabrik), sedikit mengonsumsi daging dan lemak, serta sering beraktivitas fisik. Namun seiring perkembangan waktu, prinsip pola makan seimbang mulai banyak ditinggalkan. Bahkan pola konsumsi anak-anak, khususnya untuk makanan jajanan, makanan instan dan junk food semakin meresahkan. Tidak jarang ditemukan, anak-anak kecil dengan lahapnya mengonsumsi makanan cepat saji. Lebih celaka, sistem pemasaran restoran junk food menarik perhatian anak-anak dengan memberikan hadiah. Strategi marketing dengan memanfaatkan kelemahan anak-anak telah menggiring pola konsumsi yang tidak berimbang dan konsumtif. Tak berlebihan jika kemudian anak-anak akan memilih restoran cepat saji ketika lapar menyerang ketimbang rumah makan tradisional. Berdasarkan pantauan YLKI, strategi pemasaran yang kerap diterapkan oleh restoran cepat saji diantaranya gencarnya iklan yang menyasar segmen anak-anak, menyediakan tempat bermain anak di restoran fast food, ikon yang lekat dengan anak-anak seperti badut, artis anak-anak, tokoh kartun dan sebagainya, pemberian hadiah khusus untuk anak-anak di dalam kemasan produk serta promosi ke sekolah-sekolah. Sementara, anak-anak adalah golongan konsumen yang rentan terhadap dampak strategi marketing yang tidak etis oleh produsen pangan tidak sehat. Menghadapi kekuatan ini berbagai pihak harus bersinergi untuk mengupayakan  perlindungan maksimal kepada anak-anak. Kebiasan mengonsumsi makanan cepat saji inilah yang akhirnya menjadi kebiasaan bagi orang tua untuk mulai meminggirkan makanan sehat dan seimbang. Guna mendapatkan gambaran bagaimana masyarakat memahami makanan seimbang, baru-baru ini YLKI mengadakan survei tentang pola konsumsi keluarga. Dan berikut Telaah hasil survey yang dilakukan YLKI. Ibu dan Anak Survei yang dilakukan pada Mei 2012, menyasar di 5 wilayah DKI Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat). Survei difokuskan pada 60 sekolah yang terdiri dari 20 sekolah taman kanak-kanak (TK); 30 sekolah dasar negeri (SDN) dan 10 sekolah dasar swasta (SDS). Setiap sekolah yang disurvei, diambil responden 10 – 11 orang tua murid. Kuesioner diisi langsung oleh orang tua murid, karena yang mengambil keputusan di dalam keluarga, khususnya untuk makanan yang akan dikonsumsi adalah orang tua. Jumlah responden yang terlibat dalam survei ini sebanyak 204 responden (34%) untuk tingkat TK, 300 responden (49%) untuk SDN dan 105 responden (17%) untuk SDS. Total responden adalah 609 orang yang melibatkan responden laki-laki (6 orang; 1%) dan responden perempuan (603 orang; 99%). Berdasarkan usia, responden berkisar antara kurang dari 25 tahun sebanyak 14 orang (2%), usia 25 – 30 tahun sebanyak 111 orang (18%), usia 31 – 35 tahun, 188 orang (31%) dan lebih dari 35 tahun sebanyak 296 orang (49%). Produk Segar Survei menemukan sebanyak 66% responden membeli produk segar di pasar tradisional, hanya 14% yang berbelanja di swalayan (ritel modern). Sedangkan, beberapa responden masih memanfaatkan tukang sayur keliling dan warung yang biasa menjual produk segar untuk kebutuhan keluarga. Ini menunjukkan bahwa animo masyarakat mengunjungi pasar tradisonal untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari masih mendominasi. Khususnya untuk berbelanja produk segar, kendati swalayan/ritel modern tersebar luas di wilayah pemukiman. Label Kemasan Setiap produk kemasan yang beredar harus dilengkapi dengan label. Label merupakan media komunikasi, informasi dan edukasi antara produsen dan konsumen. Keterangan yang terlampir dalam label mengenai pangan dapat berbentuk gambar, tulisan atau kombinasi keduanya yang dimasukkan ke dalam, ditempelkan atau merupakan bagian dari kemasan. Sebagai konsumen sangat penting untuk memperhatikan, membaca dan memahami informasi pada label yang tercantum di kemasan. Dengan membaca label, konsumen akan mengonsumsi pangan yang sesuai dengan keinginannya. Secara umum, informasi dasar pada label yang kerap diperhatikan konsumen sebelum membeli produk kemasan, antara lain; nama pangan olahan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat produsen atau importir yang memasukkan pangan ke wilayah Indonesia, bahan yang digunakan, tanggal kadaluarsa, kode produksi serta nomor registrasi. Selain informasi tersebut, sebenarnya penting juga bagi konsumen untuk memperhatikan informasi nilai gizi, label halal, keterangan tentang petunjuk penyimpanan, serta peringatan. Kesadaran konsumen dalam membaca label pangan kemasan memang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei YLKI, 96 persen responden membaca informasi yang tercantum pada kemasan ketika membeli produk, kendati tidak membaca secara detail. Hanya sebagian kecil responden yang tidak membaca label. Salah satu alasan tidak membaca label karena produk yang dibeli sudah rutin dikonsumsi. Pertanyaan terbuka diberikan kepada responden terkait informasi apa saja dari label kemasan yang di baca, mayoritas responden menjawab tanggal kadaluarsa (545 orang). Sedangkan informasi terkait nomor registrasi produk (nomor pendaftaran produk) sangat kecil nilainya (2 orang). Padahal, nomor pendaftaran merupakan informasi penting yang menyatakan bahwa produk tersebut merupakan legal, terdaftar di Badan POM atau Dinas Kesehatan terkait. Selain itu, dengan adanya nomor registrasi, tanggung jawab dari produsen lebih jelas. Survei juga menemukan bahwa mayoritas (449 responden) konsumen memilih produk kemasan dilandasi oleh faktor manfaat. Bekal Makanan Bagaimana cara anak makan dan apa yang dimakan oleh anak merupakan tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Jika menginginkan anak yang sehat, perhatikanlah jenis, sumber dan proses dari makanan tersebut. Sebagai orang tua, menyiapkan makanan yang sehat merupakan tanggung jawab yang besar. Masih banyak masyarakat kita yang tidak mengetahui dengan jelas apa bekal makanan itu? Apakah dengan membawa kotak makan dan membeli makanan di kantin sekolah itu termasuk bekal? Atau jika kita membuatnya sendiri di rumah, itulah yang disebut bekal?  Membawa mie instan, nugget dan sosis juga bolehkah disebut sebagai bekal sehat? Definisi ini masih belum jelas. Bekal makanan seharusnya terdiri dari makanan yang kaya akan gizi, dibuat sendiri di rumah dengan tidak menggunakan bahan-bahan kimia tambahan yang tentunya akan berbahaya bagi anak-anak kita dan keluarga yang mengonsumsinya. Menyiapkan bekal makanan untuk anak dan keluarga merupakan tantangan tersendiri. Tidak sedikit orang tua, yang akhirnya memutuskan untuk memberikan uang jajan sebagai pengganti bekal makanan. Asupan gizi anak-anak paling banyak dibutuhkan pada siang hari. Bisa dibayangkan, jika anak-anak tidak membawa bekal, maka mereka akan jajan berbagai jenis makanan yang tidak sehat yang ada di lingkungan sekolah, misalnya: minuman dingin dengan beragam pewarna buatan, gorengan, makanan instan dan berbagai jenis makanan yang tidak terdaftar. Dari hasil survei