YLKI minta perbaikan pengelolaan parkir di Bandara Soekarno - Hatta Cengkareng

Rencana Penaikan PSC, AP II Didesak Perbaiki Dulu Fasilitas 7 Bandara

by admin • October 8, 2015

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia meminta rencana kenaikan biaya pelayanan jasa penumpang pesawat udara atau biasa disebut passenger service charge di beberapa bandara PT Angkasa Pura II dilakukan setelah standar pelayanan minimum sudah terpenuhi. Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai rencana penaikan passenger service charge (PSC) bisa diterima jika dapat direspons secara benar dengan peningkatan standar pelayanan minimum. “Jadi jangan hanya menaikkan tarif PSC, tetapi mutu dari standar pelayanan itu tidak jelas, baik dari infrastruktur, informasi, transportasi bandara dan lain sebagainya. Prioritaskan itu dulu baru bisa menaikkan tarif PSC,” ujarnya, Selasa (25/8). Tulus mencontohkan pengelolaan transportasi dan parkir di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng perlu menjadi prioritas perbaikan PT Angkasa Pura (AP) II. Selama ini, kasus pengelolaan transportasi darat menjadi kasus yang paling banyak diadukan konsumen. Konsultan bisnis aviasi dari Communicavia Gerry Soejatman menilai rencana AP II menaikkan PSC itu bakal menambah beban penumpang angkutan udara. “Saya kira jumlah penumpang hingga akhir tahun ini bakal turun mengingat banyak kebijakan yang menyudutkan para penumpang. Bahkan, saya dengar kalau penerbangan untuk keperluan bisnis itu sudah jauh berkurang,” tuturnya. Gerry menilai PT AP II lebih baik menaikkan tarif pendaratan pesawat ketimbang tarif PSC, atau setidaknya dibagi rata dengan tarif kebandarudaraan lainnya. Dengan demikian, beban penumpang menjadi lebih ringan. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Niaga Nasional (Indonesia National Air Carriers Association / INACA) Teuku Burhanudin menilai rencana itu juga bakal mengganggu kinerja keuangan maskapai. “Kalau jumlah penumpang banyak, volume income kan juga banyak. Tetapi kalau mahal, penumpang juga bakal turun, dan pendapatan juga akan mengikuti. Apalagi rupiah masih terus melemah, kinerja maskapai juga makin berat tahun ini,” katanya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus level Rp. 14.000. INACA menghitung biaya operasional maskapai setidaknya naik 15% mengingat banyak komponen biaya dari maskapai yang berbentuk dolar AS. BELUM SEPAKAT CEO Cardig Air Boyke P. Soebroto menyatakan tidak sepakat dengan rencana PT AP II menaikkan tarif PSC tersebut. Menurutnya, BUMN itu lebih baik meningkatkan terlebih dahulu pelayanan dan fasilitas di bandara. “Saya kira seharusnya tingkatkan dulu pelayanannya sehingga ada  apresiasi dari para penumpang angkutan udara. Tetapi, Angkasa Pura II justru mencari jalan mudah untuk menaikkan pendapatannya, melalui PSC ini,” katanya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang angkutan udara pada paruh pertama tahun ini mencapai 39 juta orang, atau tumbuh 11,42% dari periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terbilang cukup baik mengingat laju pertumbuhan penumpang angkutan udara pada semester I/2004 hanya 1,5%. Dirut PT AP II Budi Karya Sumadi mengatakan rencana kenaikkan PSC itu didasari upaya perseroan memberikan nilai tambah agar pelayanan bagi para penumpang menjadi lebih baik. “Kami kan investasi banyak, dan ini tentu saja tidak free. Tarif PSC di tiap bandara juga akan berbeda-beda sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Yang pasti kenaikan tarif itu di kisaran angka yang wajar, tidak berlebihan,” katanya. Perusahaan pelat merah itu sebelumnya mengusulkan kenaikan tarif PSC di tujuh bandara kepada Kementerian Perhubungan. Ketujuh bandara tersebut a.l Bandara Soekarno – Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Bandara Husein Sastranegara Bandung. Selain itu, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Bandara Supadio di Pontianak, Bandara Minangkabau di Padang, dan Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang. PT AP II akan memakai dana PSC untuk pemeliharaan dan peningkatan fasilitas kebandarudaraan. Rencananya, besaran kenaikan tarif PSC tersebut bervariasi dengan perkiraan naik sekitar 20%. Sumber:Kliping Media YLKI Bisnis Indonesia, 26 Agustus 2015 (Penulis: Ringkang Gumiwang).